LPM Ara
–Aita, 24 Oktober 2012, 02.00 Am
Lost the meaning of our stay…
Learn to life Another day…
Doubt the choices that we’ve
made…
I know that we can’t Hide our shame,
If only in Disguise…
Peserta
MAPABA sudah berhasil kumasukkan ke kamar dan kusuruh tidur. Aku turun dari
Aula, mengambil Jaket dan mengancingkannya rapat ke tubuh. Berusaha menangkis
serangan dingin udara Puncak Prigen yang mulai turun. Paska rapat panitia OC
yang dramatis berhiaskan tawa dan tangis barusan, Aku penasaran apa saja yang
dilakukan teman-temanku. Terutama pasangan pak ketua dan bu ketua yang jadi
pemeran utamanya. Kuambil posisi agak jauh di seberang jalan depan villa.
Ditemani segelas kopi untuk sekedar pengusir kantuk. Tanahnya tinggi, jadi aku
leluasa memperhatikan dua insan yang saling berpelukan. Erat dan mesra.
Aku berlari sekuat tenaga. Mendaki jalan curam yang menanjak naik itu.
Udara dingin pegunungan selepas matahari tenggelam seakan menjepit paru-paruku.
Tas punggung dan megafon yang kubawa ini seperti menarikku ke bawah. Di
pikiranku Cuma terbayang wajahnya yang menahan sakit. Kudengar sakit seperti itu
bisa membuat seorang perempuan pingsan. Aku tak peduli apapun. Yang penting,
aku bisa menolongnya, aku bisa berbuat sesuatu untuknya. Saat nafas ini seakan
mau habis, villa tempat MOM KPI 2012 terlihat. Aku bersorak dalam hati, sedikit
lagi... Tapi...
Moment indah tak bisa terjadi dua kali. Ini buktinya.
Maunya sih, ingin ngulang masa jalan-jalan seru ke stasiun semut bersama mb
Yus, Pak jendral, mb Mia, dan mb Mir. Eh, ternyata keadaan berubah jadi aneh,
beberapa teman tidak menerima telpon
atau smsku. Salah satu alasan mau keluar sama yang lain. Bahkan ada salah
seorang yang entah sengaja atau tidak menonaktifkan Handphone-nya. Loh-loh-loh, onok opo iki...
Teman-teman tak pernah membuatku berhenti tertawa, semester dua baru saja berlangsung satu hari, namun serangkaian kejadian lucu sudah terjadi. Mulai dari Iis yang menabrak tempat sampah, Lia dan Anisa yang berdebat masalah “Burung” dengan supardi. Hingga syahrul yang mendadak sakit setelah umpan bola dari kosma menghantam tepat di selangkangannya.
Hatiku
masih berisi sumpah serapah pada Elimarandul-Rithrandril. Hingga tidak begitu
sadar akan pintu yang aku masuki. Baru tatkala masuk ke dalam ruangan yang
samasekali asing itu, Aku tercengang. Ransel melorot saja tanpa terasa.
Langkahku pelan ke tembok yang masih baru itu. Dengan sangat hati-hati
kusentuh.kususurkan jari-jariku disana.
Memang,
Pak Tua, aku tidak mau menafikan ajaran Sayyidina Ali Karramallahu Wajha tentang
lima obat hati. Tapi buat diriku sendiri, aku menetapkan prosedur tambahan.
Mengantisipasi agar tidak kehilangan kontrol seperti waktu pertama kali kena serangan
dulu. Prosedur ini tidak berdasar teori ilmiah manapun. Cuma didapat dari
pengalaman saja. Heh, aku bukan jurusan Psikologi.
Bus Armada sakti warna hijau melesat diatas di atas
pantura, melahap perlahan kilometer demi kilometer menuju kembali ke Surabaya. Liburan yang
menyenangkan Usai, saatnya berpisah selama satu setengah bulan kedepan. Tiga
hari yang singkat itu, telah berhasil membuat masing-masing hati kami
berkecamuk. Bedanya, ada yang pintar menyembunyikannya dalam tawa keceriaan,
ada yang tidak.![]() |
| pria-pria berotot, kadang kejam, kadang feminim |
![]() |
| tebak, yang mana setannya? |